Sabtu, April 17, 2010

Metode Penelitian Pendidikan

Penelitian Eksperimen
Dan Penelitian Historis

BAB I
PENDAHULUAN

A. Pengertian Penelitian
Penelitian adalah suatu penyelidikan atau suatu usaha pengujian yang dilakukan secara teliti, dan kritis dalam mencari fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan menggunakan langkah-langkah tertentu.
Dalam mencari fakta-fakta ini diperlukan usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah. Beberapa pakar lain memberikan definisi penelitian sebagai berikut:

1. David H Penny : Penelitian adalah pemikiran yang sistematis mengenai berbagai jenis masalah yang pemecahannya memerlukan pengumpulan dan penafsiran fakta-fakta.

2. J. Suprapto : Penelitian adalah penyelidikan dari suatu bidang ilmu pengetahuan yang dijalankan untuk memperoleh fakta-fakta atau prinsip-prinsip dengan sabar, hati-hati, serta sistematis.

3. Sutrisno Hadi : Sesuai dengan tujuannya, penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan dan menguji kebenaran suatu pengetahuan.

4. Mohammad Ali : Penelitian adalah suatu cara untuk memahami sesuatu melalui penyelidikan atau usaha mencari bukti-bukti yang muncul sehubungan dengan masalah itu, yang dilakukan secara hati-hati sekali sehingga diperoleh pemecahannya.

5. The New Horison Ladder Dictionar: Pengertian research ialah a careful study to discover correct information, yang artinya, suatu penyelidikan yang dilakukan secara hati-hati untuk memperoleh informasi yang benar.

Secara etimologi, penelitian berasal dari bahasa Inggris œresearch (re berarti kembali, dan search berarti mencari). Dengan demikian research berarti mencari kembali.
Menurut kamus Websterâ New Internasional, penelitian adalah penyelidikan yang hati-hati dan kritis dalam mencari fakta dan prinsip-prinsip; suatu penyelidikan yang amat cerdik untuk menetapkan sesuatu.
Hillway dalam bukunya Introduction to research mengemuka-kan bahwa penelitian adalah suatu metode belajar yang dilakukan seseorang melalui penyelidikan yang hati-hati dan sempurna terhadap suatu masalah sehingga diperoleh pemecahan yang tepat terhadap masalah tersebut. (Hillway, 1965)
Tuckman mendefinisikan penelitian (research) : œ a systematic attempt to provide answer to question yaitu penelitian merupakan suatu usaha yang sistematis untuk menemukan jawaban ilmiah terhadap suatu masalah.
Sistematis artinya mengikuti prosedur atau langkah-langkah tertentu. Jawaban ilmiah adalah rumusan pengetahuan, generaliasi, baik berupa teori, prinsip baik yang bersifat abstrak maupun konkret yang dirumuskan melalui alat- primernya, yaitu empiris dan analisis. Penelitian itu sendiri bekerja atas dasar asumsi, teknik dan metode.
Kadang-kadang orang menyamakan pengertian penelitian dengan metode ilmiah. Sesuai dengan tujuannya, Penelitian dapat diartikan sebagai usaha untuk menemukan, mengembangkan, dan menguji kebenaran suatu pengetahuan dimana usaha-usaha itu dilakukan dengan menggunakan metode ilmiah.
Kegiatan penelitian adalah suatu kegiatan objektif dalam usaha mengembangkan, serta menguji ilmu pengetahuan berdasarkan atas prinsip-prinsip, teori-teori yang disusun secara sistematis melalui proses yang intensif dalam pengembangan generalisasi. Sedangkan metode ilmiah lebih mementingkan aplikasi berpikir deduktif-induktif di dalam memecahkan suatu masalah.
Fokus perhatian dalam suatu penelitian adalah masalah, masalah yang muncul dalam pikiran peneliti berdasarkan penelaahan situasi yang meragukan (a perplexing situation) Masalah adalah titik sentral dari keseluruhan penelitian.
Pada bagian pembahasan ini kami akan membahas dua metode penelitian dari beberapa metode yang ada, yaitu :
1. Metoda penelitian Eksperimen
2. Metoda Penelitian Historis ( Sejarah )



























BAB II
PEMBAHASAN

A. PENELITIAN EKSPERIMEN
Jenis penelitian lain yang juga sering dilakukan oleh seorang peneliti yaitu adalah penelitian eksperimen. Dalam penelitian eksperimen variabel-variabel yang ada termasuk variavel bebas atau independent variable dan variabel terikat (dependent variable), sudah ditentukan secar tegas oleh para peneliti sejak awal penelitian.
Variabel bebas biasanya merupakan variabel yang dimanipulasi secara sistematis. Di bidang pendidikan diidentifikasi sebagai variabel bebas di antaranya termasuk: metode mengajar, macam-macam penguatan (reinforcement), frekuensi penguatan, sarana prasarana pendidikan, lingkungan belajar, materi belajar, jumlah kelompok belajar, dan sebagainya. Sedangkan variabel terikat yang sering juga disebut sebagai citerion variable merupakan variabel yang diukur sebagai akibat adanya manipulasi pada variabel bebas. Variabel terikat ini disebut juga dependent variabel karena memang fungsi mereka yang tergantung dari variabel bebas. Yang sering dikelompokkan sebagai variabel terikat di bidang pendidikan, misalnya hasil belajar siswa, kesiapan belajar siswa, kemandirian siswa, dan sebagainya.
Metode penelitian eksperimen merupakan metode penelitian yang paling produktif, karena jika penelitian tersebut dilakukan dengan baik dapat menjawab hipotesis yang utamanya berkaitan dengan hubungan sebab akibat. Di samping itu, penelitian eksperimen juga merupakan salah satu bentuk penelitian yang memiliki syarat yang relatif lebih ketat jika dibandingkan dengan jenis penelitian lainnya. Hal ini karena sesuai dengan maksud para peneliti yang menginginkan adanya kepastian untuk memperoleh informasi tentang variabel mana yang yang menyebabkan sesuatu terjadi dan variabel yang memperoleh akibat dari terjadinya perubahan dalam suatu kondisi eksperimen, dengan kata lain suatu penelitian eksperimen pada prinsipnya dapat didefinisikan sebagai metode sistematis guna membangun hubungan yang mengandung fenomena sebab akibat (Causal-effect relationship).
Contoh hubungan sebab akibat di bidang pendidikan misalnya, seorang mahasiswa mempunyai nilai matematika tinggi cenderung berhasil menyelesaikan mata kuliah merencang mesin. Penelitian eksperimen pada umumnya dilakukan oleh peneliti dengan tujuan mengatur situasi di mana pengaruh beberapa variabel terhadap satu atau variabel terikat dapat diidentifikasi.

Konsep metode eksperimen dimulai dengan pengertian yang sederhana misalnya tentang pertanyaan yang berkaitan dengan bagaimanakah hubungan satu atau lebih variabel dalam suatu kondisi tertentu? untuk menjawab pertanyaan tersebut, seorang peneliti pada umumnya akan mengembangkan satu atau lebih hipotesis yang menyatakan hubungan yang dihadapkan, membuat desain penelitian, mencari dan mengorganisasi data untuk kemudian menganalisis dan akhirnya memperoleh jawaban hipotesis di atas. Sebagai contoh misalnya, untuk mendapatkan pengaruh antara dua metode mengajar pada mata kuliah metodologi penelitian sebagai fungsi besarnya jumlah siswa dalam kelas (besar dan kecil), dan tingkat inteligensi mahasiswa (tinggi, rerata, dan rendah), kemudian pada akhir penelitian diukur hasil pencapaian belajar dengan tes hasil belajar.
Di bidang pendidikan penelitian eksperimen dapat dibedakan menjadi dua macam bentuk, yaitu penelitian di dalam laboratorium dan penelitian di luar laboratorium. Penelitian di laboratorium, dilaksanakan peeneliti di dalam ruangang tertutup atau dalam kondisi tertentu untuk meningkatkan intensitas yang lebih teliti terhadap veriabel yang diteliti. Sedangkan penelitian di luar laboratorium yang disebut juga penelitian lapangan, biasanya di’lakukan peneliti guna mendapatkan hasil penelitian yang mendekati dengan lingkungannya, misalnya masyarakat.
Dalam penelitian eksperimen lapangan pada umumnya dapat berupa kegiatan kelas, sekolah, kegiatan praktik di bengkel, atau pertemuan sekolah lainnya diambil secara alami. Sejalan dengan subjek yang diteliti adalah anak atau seorang manusia, di bidang pendidikan dari kedua macam bentuk penelitian eksperimen tersebut penelitian di luar laboratorium adalah bentuk penelitian yang paling banyak dilakukan, karena mempunyai beberapa keunggulan seperti:
1) variabel eksperimen dapat lebih kuat dilapangan dibanding penelitian di laboratorium
2) lebih mudah dalam memberikan perlakuan]
3) dapat dilakukan proses eksperimen dengan setting yang mendekati keadaan sebenarnya
4) hasil eksperimen lebih aktual dengan permasalahan yang dihadapi oleh para pendidik

walaupun demikian, eksperimen di laboratorium juga memiliki keunggulan yang utama adalah bahwa penelitian eksperimen di laboratorium lebih cocok untuk problem yang berkaitan dengan misi pengembangan ilmu pengetahuan, termasuk ilmu pendidikan.
Di bidang pendidikan, ada dua alasan mengapa penelitian eksperimen cocok dilakukan. Pertama, metode pengajaran yang lebih tepat di setting secara alami dan dikomparasikan di dalam keadaan yang tidak bias. Kedua, penelitian dasar (fundamental research) dengan tujuan menurukan prinsip-prinsip umum teoritis ke dalam ilmu terapan yang sesuai dengan permasalahan yang dihadapi oleh para penyelenggara sekolah.

a. Karakteristik Penelitian Eksperimen
Penelitian eksperimen pada umumnya, menurut (Ary, 1985), mempunyai tiga karakteristik penting, yaitu:
1) variabel bebas yang dimanipulasi
2) variabel lain yang mungkin berpengaruh dikontrol agar tetap konstan
3) efek atau pengaruh manipulasi variabel bebas dan variabel terikat diamati secara langsung oleh peneliti



ketiga karakteristik tersebut secara singkat diuraikan pada subbab berikut ini.
1. Memanipulasi
Karakteristik pertama yang selalu ada dalam penelitian eksperimen adalah adanya tindakan manipulasi variabel yang secara terencana dilakukan oleh si peneliti. Memanipulasi variabel ini tidak mempunyai arti yang negatif seperti yang terjadi di luar konteks penelitian. Yang dimaksud dengan manipulasi yaitu tindakan atau perlakuan yang dilakuakan oleh seorang peneliti atas dasar pertimbangan ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka guna memperoleh perbedaan efek dalam variabel terikat.
Pada penelitian pendidikan dan penelitian tingkah laku, manipulasi variabel, misalnya peneliti mengambil bentuk sifat di mana peneliti melaksanakan sesuatu sebagai penentu awal dengan kondisi yang bervariasi pada subjek yang diteliti.
Misalnya dalam suatu proses penelitian laboratorium, dua kelompok yaitu treatment dan kelompok kontrol diberikan suhu ruangan yang bertingkat, yaitu dingin, sedang, dan panas.
Perbedaan kondisi ruang tersebut direncanakan sebagai penentu awal agar mereka memperoleh hasil yang mungkin berbeda di antara kedua grup. Perbedaan yang muncul tersebut diperhitungkan sebagai akibat adanya manipulasi variabel terhadap dua kelompok.

2. Mengontrol Variabel
Karakteristik kedua yang selalu ada dalam penelitian eksperimen adalah adanya kontrol yang secara sengaja dilakukan oleh peneliti terhadap variabel atau ubahan yang ada. Mengenai yang dimaksud dengan kontrol (Gay, 1982) adalah seperti berikut,
Mengontrol merupakan usaha peneliti untuk memindahkan pengaruh variabel lain terhadap variabel terikat yang mungkin mempengaruhi penampilan variabel tersebut.
Kegiatan mengontrol suatu variabel atau subjek dalam penelitian eksperimen memiliki peranan yang sangat penting, karena tanpa melakukan kontrol secara sistematis, seorang peneliti tidak mungkin dapat melakukan evaluasi dengan melakukan pengukuran secara cermat terhadap variabel terikat. Untuk mengatasi hal tersebut maka proses eksperimen harus dipisahkan dengan variabel luar (extraneous variable) yang tidak diperlukan tetapi memiliki potensi yang mungkin dapat mempengaruhi hasil pengukuran padan variabel terikat.
Dengan dilakukannya pemisahan variabel luar dengan variabel yang diperlukan tersebut, sehingga peneliti yakin bahwa apabila terjadi perbedaan pada variabel terikat di antara group konrol dan grup treatment . atau dengan kata lain, perbedaan tersebut disebabkan oleh perubahan treatment yang dilakukan oleh peneliti pada variabel bebas.
Dalam penelitian eksprimen, seorang peneliti jarang hanya melakukan pengamatan pada grup kontrol. Mereka biasanya juga mengamati grup lain yang memproleh perlakuan khusus, kemudian mereka melakukan analisis perbedaan antara keduanya-grup eksprimen dan grup kontrol.
Dalam pelaksanaan penelitian eksperimen, kelompok eksperimen dan kelompok kontrol sebaiknya diatur secara intensif sehingga kedua variabel mempunyai kaarakteristik sama atau mendekati sama. Yang membedakan dari kedua kelompok ialah grup eksperimen diberi treatment atau perlakuan tertentu, sedangkan grup kontrol diberikan teratment seperti keadaan biasanya.

3. melakukan observasi
karakteristik dalam suatu penelitian eksperimen adalah adanya tindakan observasi yang dilakukan oleh peneliti selama proses eksperimen berlangsung. Selama proses penelitian berlangsung, peneliti melakukan observasi terhadap kedua kelomok tersebut. Tujuan melakukan observasi adalah untuk melihat dan mencatat fenomena apa yang muncul yang memungkinkan terjadinya perbedaan antara kedua kelompok.
Tindakan observasi dilakukan peneliti pada umumnya mempunyai tujuan agar dapat mengamati dan mencatat fenomena yang muncul dalam variabel terikat sebagai akibat dari adanya kontrol dan manipulasi variabel.
Dalam proses eksperimen yang biasanya ada dua kelompok, yaitu variabel bebas dan variabel terikat, maka peneliti dianjurkan untuk lebih melakukan pengamatan pada variabel terikat, yaitu variabel yang biasanya menerima akibat terjadinya prubahan secara sistematis dalam variabel bebas.

b. Proses Penelitian Eksperimen
Langkah penelitian eksperimen pada prinsipnya sama dengan jenis penelitian lainnya. Yang secara eksplisit dapat dilihat seperti berikut:
1. Melakukan kajian secara induktif yang berkaitan erat dengan permasalah yang hendak dipecahkan.
2. Mengidentifikasi permasalahan
3. Melakukan studi literatur dari beberapa sumber yang relevan, memformulasikan hipotesis penelitian, menentukan definisi operasional dan variabel.
4. Membuat rencana penelitian yang didalamnya mencakup kegiatan:
a. mengidentifikasi variabel luar yang tidak diperlukan, tetapi memungkinkan terjadi kontaminasi proses eksperimen;
b. menentukan cara untuk mengontrol mereka;
c. memilih desain riset yang tepat;
d. menentuak populasi, memilih sampel yang mewakili dan memilih (assign) sejumlah subjek penelitian;
e. membagi subjek ke dalam kelompok kontrol maupun kelompok eksperimen;
f. membuat insrtumen yang sesuai, memvalidasi instrumen dan melakukan pilot study agar memperoleh instrumen yang memenuhi persyaratan untuk mengambil data yang diperlukan;
g. mengidentifikasi prosedur pengumpulan data, dan menentukan hipotesis.
5. Melakukan eksperimen
6. Mengumpulkan data kasar dari proses eksperimen
7. Mengorganisasi dan mendeskripsikan data sesuai dengan variabel yang telah ditentukan
8. Melakukan analisis data dengan teknik statistka yang relevan
9. Membuat laporan penelitian eksperimen

Pada kondisi yang sama, (Guy, 1982: 201) dalam penelitian eksperimen menekankan perlu adanya langkah-langkah seperti berikut:
a) Adanya permasalahan yang signifikan untuk ditelitti.
b) Pemilihan subjek yang cukup untuk dibagi dalam kelompok eksperimen dan kelompok kontrol.
c) Pembuatan atau pengembangan eksperimen
d) Pemilihan desain penelitian.
e) Eksekusi prosedur.
f) Melakukan analisis data.
g) Memformulasikan kesimpulan.

Dalam penelitian eksperimen peneliti diharuskan menyusun variabel-variabel minimal satu hipotesis yang menyatakan harapan hubungan sebab akibat di antara variabel-variabel yang terjadi.

c. Desain Penelitian
Secara definisi, desain penelitian mempunyai dua macam pengertian, yaitu secara luas dan sempit. Secara luas, desain penelitian adalah semua proses yang diperlukan dalam perencanaan dan pelaksanaan penelitian. Dalam hal ini komponen desain dapat mencakup semua struktur penelitian yang diawali sejak menemukan ide, menentukan tujuan, kemudian merencanakan proses penelitian, yang di dalamnya mencakup perencanaan permasalahan, merumuskan, menentukan tujuan penelitian, mencari sumber informasi dan melakukan kajian dari berbagai pustaka, menentukan metode yang digunakan, analisis data dan mengetes hipotesis untuk mendapatkan hasil penelitian, dan sebagainya. Arti desain penelitian secara luas ini didukung oleh pendapat dari beberapa ahli (Babbie, 1983) dan (Nazir, 1988). Lebih jauh (Babbie, 1983), tentang desain penelitian yang mengatakan bahwa research design addrsses the planning of scientific inquires.
Seorang peneliti memang perlu mempertimbangkan sejak munculnya rasa ketertatikan mereka terhadap masalah yang muncul dalam suatu objek atau subjek di sekitarnya, kemudian diteruskan pemikiran lebih jauh guna menangkap dan merangkaikan ide dan teori yang mendasari dari interes peneliti terhadap sesuatu yang ingin diteliti. Atau dengan kata lain, pemikiran dari yang masih sifatnya abstrak ini dilanjutkan sampai pada langkah yang lebih nyata atau operasional, di antaranya yaitu menghubungkan pada konteks dan permasalahan. Variabel yang terkait dalam permasalahan, pemilihan metode, teknik sampling, administrasi data, analisis data dan sampai akhirnya pada pembuatan laporan penelitian.
Desain penelitian secara sempit dapat diartikan sebagai penggambaran secara jelas tentang hubungan antarvariabel, pengumpulan data dan analisis data, sehingga dengan adanya desain baik peneliti maupun orang lain yang berkepentingan mempunyai gambaran tentang bagaimana keterkaitan antara variabel yang ada dalam konteks penelitian dan apa yang hendak dilakukan oleh seorang peneliti dalam melaksanakan penelitian. Desain penelitian yang dibuat secara cermat akan memberikan gambaran yang lebih jelas pada kaitannya dengan penyusunan hipotesis dengan tindakan yang akan diambil dalam proses penelitian selanjutnya.
Contoh aplikasi nyata perlunya desain penelitian (Campbel dan Stranley, 1966), mengenai desai penelitian yang jumlahnya 12 model dan terbagi dalam tiga kelompok besar, yaitu praeksperimen, eksperimen, dan eksperimen semu (quasi exsperiment). Desain pertaama adalah model praeksperimen, bentuk model ini sederhana dengan menggunakan variable tunggal, mungkin peneliti akan berpendapat bahwa desain tidak perlu karena dengan pemahaman selintas, para peneliti dapat mengetaghui tindakan apa yang dilakukan dan implikasi apa yang perlu untuk mendapatkan data yang diperlukan di lapangan.
d. Ancaman Terhadap Validitas Dalam Rancangan Eksperimental.
Sebagian besar buku-buku penelitian ada mengenai ancaman validitas cenderung mengacu pada buku Eksperomentall and Quasi-Eksperimentall Design for Research oleh Campbell dan Stanley (1963). Buku-buku tersebut telah mengangkat sumber-sumber yang tidak valid dan juga termasuk rancangan eksperimental.
Suatu eksperimental disebut valid apabila hasil yang diperoleh samata-mata disebabkan oleh pemanipulasian variabel bebas dan memperoleh hasil yang sama bila dilakukan di luar situasi eksperimen. Validasi internal mengarah pada suatu kondisi bahwa perbedaan yang diamati ada variabel terikat adalah semata-mata hasil langsung dari pemanipulasian variabel bebas, bukan dari variabel-variabel lain (Gay, 1976). Pertanyaan yang dikemukakan dalam validasi internal adalah: apakah perlakuan yang diberikan di dalam eksperimen benar-benar membawa perubahan variabel terikat? Apakah variabel bebas benar-benar membuat perbedaan yang signifikan? Ary, dkk. (1972) mengatakan bahwa penyidik tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara positif jika rancangan yang diberikan sebelumnya tidak memberikan kontrol yang cukup pada variabel yang tidak berhubungan. Derajat yang hasilnya dapat dihubungkan pada pemanipulasian variabel bebas dan bukan dari sesuatu yang lain dikatakan valid secara internal.
Ancaman terhadap Validasi Internal. Campbell dan Stanley mengidentifikasi ancaman terhadap validasi internal atas delapan ancaman dasar yaitu sebagai berikut:
1. Sejarah. Beberapa peristiwa mungkin akan terjadi selama dilakukan eksperimen dan akan mengakibatkan perubahan serius pada variabel terikat. Peristiwa-peristiwa tesebut bukan bagian dari perlakuan eksperimental, dan dapat memberikan pengaruh yang serius pada variabel terikat. Jika seandainya kita ingin mengukur sikap, sebagai hasil studi, dan diantara pengukuran, film-film yang relevan dari study kita dipertunjukkan oleh guru-guru lain tanpa menduga bahwa hal itu merupakan variabek intervening kita, maka pada saat mengetes subjek-subjek, kita sebenarnya mengukur efek film-film tersebut, bukan mengukur perlakuan eksperimental. Hal ini dapat terjadi karena kita tidak mengontrol kejadian-kejadian tersebut. Oleh karena itu dalam rancangan awal seharusnya kita bisa mengontrol variabel yang tidak berhubungan.
2. Kematangan. Campbell dan Stanley (1963) menjelaskan istilah ini sebagai proses psikologis atau biologis yang secara sistemtis bervariasi sesuai dengan perjalanan waktu, serta bebas dari kejadian eksternal khusus. Di antara dua waktu pengukuran, subjek akan semakin dewasa, lapar, letih, bosan dan seterusnya. Hal ini akan dapat merintangi pengaruh variabel bebas terhadap variabel terikat. Jika kita sebagai peneliti di mana subjek kita merasa letih dan bosan karena terlalu lama bekerja, maka ada kemungkinan eksperimen kita tidak memiliki validitas internal.
3. Pengujian. Pengujian diartikan sebagai peningkatan prestasi subjek pada pasca uji yang merupakan fungsi dari pas uji dan bukan karena perlakuan eksperimental. Kondisi seperti ini dapat terjadi pada ujian-ujian yang mudah diingat. Salah satu cara untuk mengontrol kemungkinan ancaman ini adalah tidak memberikan prauji. Kemungkinan alternatif lain adalah dengan menggunakan bentuk-bentuk ujian lain.
4. Instrumen. Ancaman insrumen terhadap validitas internal terjadi pada situasi berikut ini.
a. Bila pra- dan pasca uji tidak memiliki tingkat kesukaran yang sama;
b. Bila soal ujian bentuk esai digunakan dalam pengukuran, dan nilai dari ujian pertama dan kedua berfluktuasi;
c. Bila wawancara digunakan untuk mengukur keberhasilan, dan subjek terbiasa dengan jadwal wawancara tersebut, sehingga dapat mempengaruhi wawancara berikutnya;
d. Bila pengamatan digunakan sebagai alat pengukuran, dari para pengamat melakukan cara-cara sendiri dalam pengamatan perlakuan pra- dan pasca uji.
e. Bila menggunakan alat mekanik untuk mengukur keberhasilan mungkin tidak dapat berfungsi karena rusak.

5. Regresi Statistika. Ancaman regresi statistik ini pada validitas internal terjadi apabila apabila prauji yang dilakukan pada subjek-subjek yang ditetapkan ada yang memperoleh skor yang terlalu tinggi dan yang terlalu rendah. kecenderungan skor sub (mean) tanpa pengaruh dari perlakuan. Mahasiswa yang pintar cenderung akan menurun dan sebaliknya mahasiswa yang bodoh akan cenderung meningkat. Campbell dan Stanley menguji ganda (test-retest) yang tidak sempurna untuk kelompok demikian ini maka salah satu cara yang mungkin dilakukan adalah dengan menyeleksi skor yang eksterm dari subjek eksperimental tersebut.
6. seleksi. Ancaman ini terjadi bila subjek yang dipilih melalui kelompok, dan bukan secara individual. Sekiranya kita mengambil satu dari empat bagian sebagai kelompok eksperimen dan bagian lain sebagai kelompok kontrol. Disini kita tidak dapat mempertimbangkan karakteristik individu sehingga komposisi kelompok tesebut bisa benar-benar tidak seimbang. Hal ini bukan suatu kasus oleh karena itu subjek yang akan dimanfaatkan untuk penyelidikan harus-harus benar-benar ditetapkan secara seimbang yang didasarkan atas variabel tertentu seperti jenis kelamin, umur, status sosial-ekonomi, dan lain-lain.
7. Mortalitas. Ancaman mortalitas sebagai hilangnya (drop-out) subjek eksperimen karena berbagai alasan. Misalnya menyeluruh dari kelompok asli. Termasuk subjek-subjek yang drop-out itu.
8. Interaksi Seleksi-Kematangan, dan sebagainya. Dan sebagainya berarti faktor-faktor lain seperti sejarah dan pengkajian juga dapat berinteraksi dengan seleksi dan kematangan biasanya selalu berinteraksi. Interaksi seleksi-kematangan ini muncul apabila kelompok-kelompok subjek yang sudah terbentuk tersebut, ada di antaranya yang memperoleh keuntungan lebih besar perlakuan yang diberikan peneliti atau mungkin ada kelebihan sejak awal pengelompokan karena adanya kematangan, sejarah, atau faktor-faktor pengujian. Misalnya kelompok eksperimen yang terbentuk oleh peneliti diajar oleh dosen lain. Tentu subjek eksperimen kita memperoleh masukan yang lebih banyak. Tetapi ajuan yang digunakan untuk pasca uji tetap mengacu dari bahan yang diajarkan oleh peneliti. Di sini, tentu ada interaksi antara seleksi dan sejarah.

Ancaman terhadap Validitas Eksternal. Validitas eksternal menunjukkan pada suatu keadaan di mana hasilnya dapat digeneralisasikan, atau dapat diterapkan pada kelompok-kelompok atau lingkungan lain diluar daerah eksperimen (Gay, 1976). Ini berarti bahwa hasil studi menegaskan hubungan sebab- akibat, diharapkan dapat ditegaskan kembali pada kelompok, kondisi dan waktu yang lain, sepanjang kondisi-kondisinya sama dengan studi yang telah dilakukan sebelumnya. Jika suatu eksperimen yang melibatkan mahasiswa berkreasi tinggi di Metro Manila memperoleh beberapa hasil, kesimpulan-kesimpulan yang sama dapat dipakai pada mahasiswa-mahasiswi berkreasi tinggi di Makati, dengan catatan variabel-variabelnya sama .
Jika penemuan-penemuan dari suatu eksperimen tidak dapat digeneralisasikan dengan populasi lain, apa yang akan mereka gunakan untuk kelompok lain? Sehubungan dengan validasi eksternal, ada beberapa pertanyaan yang perlu ditanyakan: Bagaimana populasinya, kondisinya, variabel-variabel eksperimennya, dan apakah hasilnya dapat digeneralisasikan Bract dan Glass (dalam Ary, dkk., 1972) telah mengidentifikasi dua tipe validitas eksternal yaitu: validitas populasi dan validitas ekologis. Validitas populasi menanyakan, ” apakah subjek populasi bisa diaharapkan berkelakuan dalam cara yang sama seperti pada subjek eskperimen”? Validitas Ekologis adalah berhubungan dengan generalisasi pengaruh eksperimental pada kondisi lingkungan yang lain. Validitas ekologis menanyakan, ”pada kondisi-kondisi yang sama (letak, perlakuan, penyelidik, variabel terikat dan sebagainya). Hasilnya dapat diharapkan sama?

B. Penelitian Historis (Sejarah)
1. Pengertian dan Tujuan Penelitian Historis
Secara umum dapat dimengerti bahwa penelitian historis merupakan penelaahan serta sumber-sumber lain yang berisi informasi mengenai masa lampau dan dilaksanakan secara sistematis. Atau dapat dengan kata lain yaitu penelitian yang bertugas mendeskripsikan gejala, tetapi bukan yang terjadi pada waktu penelitian dilakukan. Penelitian historis di dalam pendidikan merupakan penelitian yang sangat penting atas dasar beberapa alasan.
Penelitian historis bermaksud membuat rekontruksi masa latihan secara sistematis dan objektif, dengan cara mengumpulkan, mengevaluasi, mengverifikasikan serta mensintesiskan bukti-bukti untuk mendukung bukti-bukti untuk mendukung fakta memperoleh kesimpulan yang kuat. Dimana terdapat hubungan yang benar-benar utuh antara manusia, peristiwa, waktu, dan tempat secara kronologis dengan tidak memandang sepotong-sepotong objek-objek yang diobservasi.
Menurut Jack. R. Fraenkel & Norman E. Wallen, 1990 : 411 dalam Yatim Riyanto, 1996: 22 dalam Nurul Zuriah, 2005: 51 penelitian sejarah adalah penelitian yang secara eksklusif memfokuskan kepada masa lalu. Penelitian ini mencoba merenkonstruksi apa yang terjadi pada masa yang lalu selengkap dan seakurat mungkin, dan biasanya menjelaskan mengapa hal itu terjadi. Dalam mencari data dilakukan secara sistematis agar mampu menggambarkan, menjelaskan, dan memahami kegiatan atau peristiwa yang terjadi beberapa waktu lalu. Sementara menurut Donald Ary dkk (1980) dalam Yatim Riyanto (1996: 22) dalam Nurul Zuriah , 2005: 51 juga menyatakan bahwa penelitian historis adalah untuk menetapkan fakta dan mencapai simpulan mengenai hal-hal yang telah lalu, yang dilakukan secara sistematis dan objektif oleh ahli sejarah dalam mencari, mengvaluasi dan menafsirkan bukti-bukti untuk mempelajari masalah baru tersebut.

Berdasarkan pendangan yang disampaikan oleh para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pengertian penelitian sejarah mengandung beberapa unsur pokok, yaitu :
• Adanya proses pengkajian peristiwa atau kejadian masa lalu (berorientasi pada masa lalu);
• Usaha dilakukan secara sistematis dan objektif;
• Merupakan serentetan gambaran masa lalu yang integrative anatar manusia, peristiwa, ruang dan waktu;
• Dilakukan secara interktif dengan gagasan, gerakan dan intuiasi yang hidup pada zamannya (tidak dapat dilakukan secara parsial).

2. Tujuan Penelitian Historis
Adapun yang menjadi tujuan penelitian sejarah atau historis adalah untuk memahami masa lalu, dan mencoba memahami masa kini atas dasar persitiwa atau perkembangan di masa lampau (Jhon W. Best, 1977 dalam Yatim Riyanto, 1996: 23 dalam Nurul Zuriah 2005: 52). Sedangkan Donal Ary (1980) dalam Yatim Riyanto (1996: 23) dalam Nurul Zuriah (2005: 52) menyatakan bahwa penelitian historis untuk memperkaya pengetahuan peneliti tentang bagaiman dan mengapa suatu kejadian masa lalu dapat terjadi serta proses bagaimana masa lalu itu menjadi masa kini, pada akhirnya, diharapkan meningkatnya pemahaman tentang kejadian masa kini serta memperolehnya dasar yang lebih rasional untuk melakukan pilihan-pilihan di masa kini.
Berikutnya Jack R. Fraenkel dan Norman E. Wellen (1990) dalam Yatim Riyanto (1996: 23) dalam Nurul Zuriah (2005: 52) menyetakan bahwa para peneliti pendidikan sejarah melakukukan penelitian sejarah dengan tujuan untuk :
• Membuat orang menyadari apa yang terjadi pada masa lalu sehingga mereka mungkin mempelajari dari kegagalan dan keberhasilan masa lampau;
• Mempelajari bagaiman sesuatu telah dilakukan pada masa lalu, untuk melihat jika mereka dapat mengaplikasikan maslahnya pada masa sekarang;
• Membantu memprediksi sesuatu yang akan terjadi pada masa mendatang;
• Membantu menguji hipotesis yang berkenaan dengan hubungan atau kecendrungan. Misalnya pada awal tahun 1990, mayoritas guru-guru wanita datang dari kelas menengah ke atas, tetapi guru laki-laki tidak;
• Memahami praktik dan politik pendidikan sekarang secara lebih lengkap.
Dengan demikian, tujuan penelitian sejarah tidak ldapat dilepaskan dengan kepentingan masa kini dan masa mendatang.

3. Sumber-Sumber Data dalam Penelitian Historis
Oleh karena objek penelitian sejarah adalah peristiwa atau kehidupan masyarakat pada masa lampau maka yang menjadi sumber informasi harus mempunyai karakteristik yang berbeda dengan metode penelitian lainnya. Beberapa sumber tersebut di antaranya adalah sebagai berikut.
Sumber-sumber primer, yaitu data yang diperoleh dari cerita para pelaku perisriwa itu sendiri, dan atau saksi mata yang mengalami atau mengetahui peristiwa tersebut. Contoh sumber-sumber primer lainnya yang sering menjadi perhatian perhatian para peneliti di lapangan atau situs di anataranya seperti, dokumen asli, relief dan benda-benda peninggalan masyarakat zaman lampau.
Sumber informasi sekunder, yaitu informasi yang diperoleh dari sumber lain yang mungkin tidak berhubungan langsung dengan peristiwa tersebut. Sumber sekunder ini dapat berupa para ahli yang mendalami atau mengetahui peristiwa yang dibahas dan dari buku atau catatan yang berkaitan dengan peristiwa, buku sejarah, artikel dalam ensiklopedia, dan review penelitian.Dari adanya sumber primer dan sekunder ini, sebaiknya peneliti apabila mungkin lebih memberikan bobot sumber-sumber data primer lebih dahulu, baru kemudian data sekunder, data tersier, dan seterusnya.

4. Langkah-Langkah Dalam Penelitian Historis
Menurut M. Subana dkk. 2005: 88, adapun kerangka penelitiannya yaitu :
• Pendefinisian Masalah
• Perumusan masalah
• Pengumpulan data
• Analisis data
• Kesimpulan
Sebagai contoh :
Judul :
Penelurusan komunisme di Indonesia Tahun 1945 hingga tahun 1965.

Perumusan masalah :
Apakah komunisme yang ada di masyarakat Indonesia merupakan warisan penjajah atau kebudayaan asli ?

Pengumpulan data :
Analisis dokumen, wawancara
Dari sumber primer dan sumber sekunder

Analisis data :
Cenderung melibatkan analisis yang logis, bukan analisis statistika, kalau pun perlu statistika hanya sebatas statistic deskriptif.

Kesimpulan :
Misalnya, tidak benar bahwa komunisme merupakan budaya warisan penjajah yang menular pada bangsa kita.

Sedangkan menurut Yatim Riyanto (1996: 23) dalam Nurul Zuriah (2005: 53) ada 4 (empat) langkah esensial dalam penelitian sejarah, yaitu sebagai berikut :
1) Merumuskan Masalah
Dalam merumuskan masalah historis terdapat beberapa persyaratan sebagaimana dalam penelitian yang lain, yaitu :
Seharusnya dinyatakan secara jelas dan ringkas,
• Manageable, dan
• Memiliki rasional yang kuat.
• Menemukan Sumber Informasi sejarah yang Relevan
Secara umum sumber informasi yang relevan dalam penenlitian sejarah dapat dikelompokkan menjadi 4 (empat) bagian berikut ini.
 Dokumen
Dokumen, yaitu materi yang tertulis atau tercetak dalam bentuk buku, majalah, Koran, buku catatan, dan sebagainya. Dokumen merujuk pada beberapa jenis informasi yang eksis ke dalam bentuk tertulis atau cetak.

 Rekaman yang Bersifat Numerik
Rekaman yang bersifat numeric, yaitu rekaman yang di dalamnya terdapat bentuk-bentuk data numerik, mislanya skor tes, laporan sensus, dan sebagainya.

 Pernyataan Lisan
Pernyataan lisan, yaitu melakukan interview dengan orang yang merupakan saksi saat peristiwa lalu terjadi. Ini merupakan bentuk khusus dari penelitian sejarah yang disebut oral history.

 Relief
Relief, yaitu objek fisik atau karakteristik visual yang memberikan beberapa informasi tentang peristiwa masa lalu. Contohnya berupa bangunan monument, peralatan, pakaian dan sebagainya.

 Meringkas Informasi yang Diperoleh dari Sumber Historis
Langkah ini merupakan proses me-review dan meringkas dari sumber informasi sejarah. Dalam hal ini peneliti berusaha untuk menentukan relevansi materi utama dengan pertanyaan atau masalah yang diteliti, yang dapat dilakukan dengan rekaman data biografi yang lengkap dari sumber, mengorganisasikan data berdasarkan kategori yang dihubungkan dengan masalah yang diteliti, dan meringkas informasi yang berhubungan fakta, jumlah, dan pertanyaan yang penting).


2) Mengevaluasi Sumber Sejarah
Dalam langkah ini peneliti sejarah harus mengadopsi sikap kritis ke arah beberapa atau seluruh sumber informasi. Dalam mengevaluasi sumber sejarah yang merupakan dokumen atau informasi. Dalam mengevaluasi sumber sejarah terdapat dua kritik yaitu :

• Kritik eksternal
Hal ini berguna untuk menetapkan keaslian atau auntentisitas data, dilakukan kritik eksternal. Apakah fakta peninggalan ata dokumen itu merupakan yang sebenarnya, bukan palsu. Berbagai tes dapat dipergunakan untuk menguji keaslian tersebut. Mislanya untuk menetapkan umumr dokumen melibatkan tanda tangan, tulisan tangan, kertas, cat, bentuk huruf, penggunaan bahasa, dan lain-lain.

• Kritik Internal
Setelah dilakukan suatu dokumen diuji melalui kritik eksternal, berikutnya dilakukan kritik internal. Walaupun dokumen itu asli, tetapi apakah mengukapkan gambaran yang benar? Bagaiaman mengenai penulis dan penciptanya? Apakah ia jujur, adil dan benar-benar memahami faktanya, dan banyak lagi pertanyaan yang bisa muncul seperti diatas. Sejarahwan harus benar-benar yakin bahwa datanya antentik dan kaurat. Hanya jika datanya autentik dan akuratlah sejarawan bisa memandang data tersebut sebagai bukti sejarah yang sangat berharga untuk ditelaah secara serius.

3) Hipotesis Dan Generalisasi Dalam Penelitian Sejarah
Dalam penelitian sejarah dapat juga diajukan hipotesis, meskipun hipotesis tersebut tidak selalu dinyatakan secara eksplisit. Biasanya sejarawan menyimpulkan bukti-buktidan secara cermat menilai kepercayaannya. Jika buktinya ternyata cocok dengan hipotesisnya maka hipotesis tersebut teruji.



4) Penulisan Laporan Penelitian Sejarah
Proses dalam penelitian laporan penelitian sejarah membutuhkan kreativitas, imajinasi kuat, dan multirasio. Laporan tersebut hendaknya ditulis dengan gaya penulisan yang baik dan objektif. Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan laporan tersebut dibuat dengan biasa-biasa saja, dan supaya tidak menonton diberi warna pada pernyataannya, yang penting jangan smapai hilang keasliannya. Mengenai format penulisan laporan tidak ada format yang baku, hal ini dapat disesuaikan dengan kepentingan atau persyaratan institusi tertentu.























BAB III
PENUTUP
1. Penelitian Ekspremental
Penelitian dengan melakuakn percobaan terhadap kelompok-kelompok ekspremen. Kepada tiap kelompok ekspremen dikenakan perlakuan-perlakuan tertentu dengan kondisi-kondisi yang dapat dikontrol.
Data sebagai hasil pengaruh perlakuan terhadap kelompok ekspremen diukur secara kuantitatif kemudian dibandingkan. Misalnya, hendak meneliti keefektifan metode-metode mengajar. Penerapan tiap metode dicobakan terhadap kelompok-kelompok coba. Pada akhir percobaan prestasi belajar tiap kelompok dievaluasi.

2. Penelitian Historis
Penelitian ditujukan kepada rekonstruksi masa lampau sistematis dan objektif memahami peristiwa-peristiwa masa lampau itu.
Data yang dikumpulkan pada penelitian ini sukar dikendalikan. Maka tingkat kepastian pemecahan permasalahan dengan metode ini adalah paling rendah. Data yang dikumpulkan biasanya hasil pengamatan orang lain seperti surat-surat arsip atau dokumen-dokumen masa lalu. Penelitian seperti ini jika ditujukan kepada kehidupan pribadi seseorang, maka penelitian disebut penelitian biografis.

Daftar Temuan

Ada kesalahan di dalam gadget ini